Selasa, 09 April 2019

Bucin-isme dan Konstelasinya di Alam Semesta


“Dasar Bucin”
“Si Bucin mulai beraksi, coy”

Apakah hal ini sama dengan fenomena Bucin?

Ku tuliskan tulisan yang tidak berguna ini bersama riuhnya petir dan hujan diluar sana menertawakan aku dalam kegabutan ini...
Tertawalah hujan biarlah aku menuliskan kata-kata yang membawaku pada wajah-wajah yang menyadari betapa bodohnya mereka menjadi seorang Bucin dan juga betapa bodohnya aku menuliskan artikel yang tidak berfaedah ini..


Bucin
Atau Budak Cinta
Di zaman post-modernisasi ini kita semakin menemukan banyak istilah-istilah absurd yang menjadi pop-culture di kalangan anak-anak muda yang melek teknologi.

Apa itu Budak Cinta?
Menurut berbagai rujukan yang saya telusuri dari berbagai artikel tidak ilmiah di Internet

Bucin atau singkatan dari Budak Cinta adalah manusia-manusia yang (maunya) romantis, tapi dengan daya berpikir nalar di bawah rata-rata. Dalam istilah kasarnya adalah bahwa Manusia menjadi bucin adalah seseorang yang mau melakukan apa saja untuk pasangannya bahkan sampai perlu mengorbankan apa saja agar bisa membuat pasangannya bahagia, atau lebih kasar lagi Manusia yang hanya terlahir untuk membahagiakan pasangannya.

Menurut pandangan saya sendiri, seseorang bucin adalah seseorang yang sedang mengalami perasaan cinta namun memaksakan dirinya untuk berbuat berlebihan agar sang pasangan merasa bahagia, dan seolah-olah si bucin ini melakukan pengorbanan yang luar biasa padahal dirinya sendiri menjadi korban itu sendiri.

Mereka yang menjadi Budak Cinta adalah mereka yang merasa senang dengan kehidupan percintaannya, apalagi dengan playlist romantis di Joox dan Spotifynya membuat ia merasa melayang dengan keberadaannya dan siapapun yang mengomentarinya bakal di omelin balik oleh si Bucin.

Fenomena seperti ini banyak terjadi pada seseorang yang nalar berpikirnya kurang matang, menjalani hubungan dengan pengorbanan atas nama mencintai namun tidak menyadari bahwa hubungan tidak melulu soal keterikatan antara dua manusia saja.
Dan ketika dia ditegur akan kebodohannya tersebut alih-alih sadar ternyata malah kita kena amukan seorang bucin.
Dasar bucin...

Lalu apa yang mempengaruhi fenomena bucin ini, kalau menurut diri saya sendiri ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang menjadi bucin, 2 hal diantaranya adalah lingkungan dan media sosial. Dua hal ini adalah faktor paling berperan dalam merubah seseorang rentan menjadi bucin, kita bisa melihat bagaimana lingkungan yang kita lihat sehari-hari khususnya pada anak-anak muda yang pembicaraan sehari-hari tidak lepas dari ke-julid-an tentang hubungan berpacaran dan kehidupan pribadi seseorang, apalagi menyangkut keretakan sebuah hubungan yang membuat siapapun mendengarnya bisa saja menjadi takut kalau hubungan yang ia jalani juga demikian, sehingga seseorang yang memiliki hubungan tersebut akan melakukan apa saja demi sebuah hubungan tersebut. Media sosial juga seperti itu,, sehari-hari di Instagram, Facebook, Twitter dan Youtube, yang paling pertama dan hangat dibahas adalah lagi-lagi tentang masalah percintaan dan asmara apalagi dengan meme-meme jomblo dan berlebihannya qoutes-qoutes percintaan yang membuat makna cinta mengalami pergeseran, dari situ saja mungkin sudah bisa menjadikan manusia-manusia terbentuk benih-benih bucin seseorang tersebut, hmmmm...

Dalam bercinta memang kita tidak mengenal alasan atau maksud tersendiri, cinta bisa saja diluar nalar dan tumbuh begitu saja, namun dalam bercinta juga membutuhkan sebuah logika yang menjadikan manusia tetap manusia yang memiliki akal untuk melanjutkan hidup yang semestinya..

Lalu, apakah bucin itu salah?
Kalau menurut diri saya sendiri, bucin tidak sepenuhnya salah dalam berhubungan, namun yang menjadi masalah pada sebagian orang adalah mereka akan merasa miris karena mereka bisa kehilangan seorang sahabat atau teman yang dulunya bersama mereka namun pada saat dia menjadi bucin akhirnya mereka seolah kehilangan dirinya.

Lalu untuk saya sendiri apa masalahnya?
Saya tidak mempermasalahkan siapapun yang menjadi bucin yang penting ia tidak mengganggu kehidupan saya dan orang lain, silakan menjadi bucin sesukamu, yang menjadi masalah adalah ANDA WARGA-WARGA BUMI YANG SELALU MERASA BENAR DALAM BERKOMENTAR, YANG SELALU NYINYIRIN KEHIDUPAN ORANG LAIN DAN  MEMPERMASALAHKAN KEHIDUPAN ORANG LAIN DAN MENJADIKANNYA LELUCON BAGI TEMAN-TEMAN ANDA.

Di lingkungan saya sendiri, Bucin menjadi bahan candaan yang sebenarnya tidak valid, sedikit-sedikit dibilang bucin, sehingga bucin mengalami pergeseran makna dari melakukan sesuatu yang ekstrim menjadi sesuatu yang receh.


Sumber : https://mojok.co/apk/rame/list/5-ciri-ciri-bucin-alias-budak-cinta/


Tertawalah hujan biarlah aku menuliskan kata-kata yang membawaku pada wajah-wajah yang menyadari betapa bodohnya saya menuliskan pandangan tentang Bucin ini, ya lebih baik kita membicarakan mengenai Pilpres yang sebentar lagi akan berlangsung, fenomena pilpres ini juga menjadi trend perbincangan yang selalu muncul dimana-mana, namun bukan diskusi mengenai politiknya yang menjadi perbincangan namun yang malah hangat-hangat dibicarakan adalah pertengkaran maya antara 2 pendukung yang suci kandidat pemilu, jujur, saya memang pendukung salah satu paslon yang akan melaksanakan pemilu yang ditunggu-tunggu ini, namun saya bukanlah pendukung yang “norak” membela mati-matian orang yang didukung, karena sama saja kita memberikan martabat kita hanya untuk orang lain mengenai debat kusir yang isinya hanyalah kekosongan semata, dan akhirnya dengan apa yang saya tulis ini saya juga sadar “kok, pendukung paslon-paslon ini hampir sama ya dengan orang yang menjadi budak cinta seorang pasangan, melakukan apapun untuk seorang yang ia anggap segalanya baginya”

Lalu, pikiranku pun berhenti sampai situ saja, biarlah kehidupan terus berjalan, yang aku nantikan adalah bagaimana hujan akan turun, lalu kemudian ada matahari menyinari setelahnya, sambil aku memandang foto seorang perempuan yang membuat aku melakukan segala cara untuk mendapatkan dan membahagiakannya....What?? Dasar Bucin!!


Selasa, 02 April 2019

Cerita yang Tersembunyi (Seberkas kisah Dayak Dusun Karau)



(Berdasarkan kisah pernelusuran Rico Irwanto, dkk)










Memandang dunia ini ada berbagai macam cara melakukannya...
Dengan menikmatinya tanpa harus melakukan sesuatu yang mengusik kenyamanan hidup kita, menjalani yang sudah tergaris pada kehidupan kita.
Atau..
Menelusuri sesuatu yang lain, tersembunyi, bahkan bisa saja itu bisa mengusik kenyamanan kita..

Adalah kami, yang memiliki jiwa penjelajah dan rasa penasaran yang tinggi
Kami menelesuri tempat ke tempat yang memiliki keunikan tersendiri padanya
Sehingga kami berpikir...

Apa yang membuat suatu tempat menjadi unik dan menarik untuk diketahui?
Barangkali ada bermacam-macam pendapat dari orang-orang di jaman post-modern ini, namun ada satu yang tak bisa kita pungkiri adalah “Cerita”
Mungkin cerita itu berupa legenda, gosip, rumor, atau fakta yang hangat bisa menjadi daya tarik bagi setiap manusia yang ingin mengetahuinya.
Begitulah barangkali gambaran bagi kami pada suatu wilayah di pedalaman Kalimantan Tengah, yang juga menjadi tempat kami lahir dan kami tinggal sekarang ini, yaitu bernama “Kabupaten Barito Timur”, tak banyak orang-orang di dunia ini mengenal tempat ini, jauh di pedalaman kalimantan yang terkenal dengan lebatnya hutan yang mengampar hijau, dan lengkungan pegunungan yang menyimpan sumber daya yang tersembunyi, namun kami menyadari bahwa masyarakatnya memiliki beragam cerita yang unik, dan menarik untuk ditelusuri, apalagi cerita itu “tersembunyi” dan jarang untuk didengungkan di lingkungan luar, mungkin menjadi kebanggaan sendiri bagi sang penemu yang memberitakan kepada siapapun yang belum mengetahuinya.

 

Apa yang terlintas bagi kamu tentang Suku Dayak?
Kami banyak mendengar penilaian orang luar tentang suku terbesar di Pulau Kalimantan ini, yaitu “Seram dan memiliki mitos yang tinggi bahkan ‘Pemakan Manusia’
Barangkali kami tidak peduli apa yang orang nilai terhada kami suku dayak, namun yang kami tahu pada dasarnya, Suku Dayak sangat beragam di Indonesia khususnya yang menempati wilayah Daerah Aliran Sungai Barito, yaitu Kabupaten Barito Timur, mungkin banyak yang menyangka bahwa seluruh Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan ini, semua masyarakatnya beretnis subsuku Dayak Maanyan, namun pernyataan itu tidak sepenuhnya benar, karena di sebagian daerahnya ada suku dayak lain yaitu Dayak Dusun dan Dayak Lawangan, ketiga suku mereka ini memang serumpun, namun sebenarnya ada banyak perbedaan mulai dari bahasa, dialek, dan adat budayanya.
Salah satunya adalah Suku Dayak Dusun Karau
Kami menelusuri ini di sebuah desa bernama Lampeong, Kecamatan Pematang Karau, Kabupaten Barito Timur, dimana letaknya berada diantara diantara Kota Buntok dan Kota Ampah dan Tamiang Layang, dan hampir 300 km jaraknya dari Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah.


Pada awalnya desa ini dihuni oleh penduduk Dusun Karau dan Lawangan lebih dari 5 generasi yang lalu, namun keberadaan mereka mulai tersingkirkan karena letak geografis yang tidak menguntungkan. Penutur bahasa karau yang masih aktif tidak lebih dari 10 orang dari kurang lebih 950 jiwa dan hanya dipergunakan oleh satu garis keturunan.

Dusun Karau adalah salah satu suku dayak yang mendiami perairan Sungai Karau, anak Sungai Barito. Suku ini memiliki kemiripan bahasa 80% dengan dusun witu dan 90% dengan Bahasa Dayak Dusun Pakoe. Dialek yang biasa diakhiri dengan akhiran ‘u/o’ menjadi salah satu ciri rumpun Dayak Dusun di Barito Timur.


Kita semua tahu, bahwa Bahasa memiliki keakraban dengan kehidupan sehari-hari dan erat kaitannya dengan adat dan budaya yang diwariskan pendahulu kita, namun...

Tahukah kalian, bahwa Dusun Karau berada dalam kepunahan? Sama seperti bahasa Pakoe. Kami sendiri telah bertemu dengan penutur bahasa Karau yang berada di Desa Lampeong, Kecamatan Pematang Karau, Barito Timur.

Biyeti (Itak Pilla) adalah penutur tertua Suku Dayak Dusun Karau, memiliki 3 orang anak dan 6 cucu, beliau masih tetap aktif menggunakan Bahasa Karau serta masih memeluk kepercayaan leluhur Agama Daholo (Kaharingan) Sebagai penduduk asli Lampeong, Itak bercerita tentang banyak hal yang pernah di jalani sejak masih kecil sampai perubahan zaman dimasa sekarang. Dilahirkan dari keturunan wadian Ngundrus Iya (Balian asli Dusun Karau) dan wadian Bawo dari sang ayah, serta dibesarkan dari keturunan Bijaju (ibu) yang masih memegang erat tradisi Bdeder dan Badewa.


Sekarang, penutur Bahasa Dayak Dusun Karau semakin terlupakan. Mereka hanya berada pada beberapa wilayah adat di antara 2 Kecamatan (Pematang Karau dan Dusun Tengah), yakni : Lampeong, Lebo, Bantai Karau, Moloh, Asak, Batu Putih dan beberapa bantai lainnya. Tidak ada data lengkap yang dapat kami terima, namun selama setahun pencarian ini penutur Bahasa Dusun Karau tidak lebih dari 150 orang. Dan semakin tahun selalu mengalami penurunan.

Terlupakan merupakan kata yang sangat tidak enak bila didengungkan pada kenayataan, dan jika hanya sebatas kenangan, akan ada penyesalan yang ada pada perasaan yang ditinggalkan atau tertinggalkan


Lantas, siapa yang kita salahkan?
Orang tua, Pemerintah, Masyarakat Adat, atau Lembaga Adat Dayak yang semua seolah tutup mata tentang hal ini.
Menurutmu?

Senin, 19 Maret 2018

Aku dan Sang Mantan

  
https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00081836.html


 Oleh : Adams Sophiano

Sudah 3 jam aku menghadap layar smartphone untuk melihat foto-foto di akun instagram Dewi, dia adalah mantanku sudah putus sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Jangan ditanya apa hubungan setelah mantan, langit pun bakal runtuh karena tidak tahu harus memberikan pendapat seperti apa. Apalagi tinggal di negeri yang terkenal akan ke-religius-an ini, status mantan sangat diskriminatif, setelah siklus permantanan akan timbul perubahan hubungan tapi bukan kembali menjadi teman atau musuh, entahlah belum ada istilah yang tepat untuk hubungan apa yang terjadi setelah “mantan”.

Ratih. Itulah namaku, kalian mungkin berpikir aku adalah wanita, padahal aku sebenarnya adalah seorang lelaki, entah apa maksud orang tua memberi aku nama demikian, jawabannya selalu tidak memuaskan, yaitu pada saat aku dikandung, ibu ku ingin bayinya berjenis kelamin perempuan, alhasil demikian namaku lah yang jadi dikorbankan, dan itu juga berpengaruh bagi suasana kehidupanku yang kadang labil.

Apalagi sejak aku pikirkan mantan yang telah ku sebutkan, Dewi, siapa yang tak kenal mantanku ini, cantik, bohai dan juga terkenal, mungkin kalian yang punya akun instagram juga sering melihat Dewi Suzana yang sedang hits sehingga sering menjadi semacam agen iklan pewangi tubuh dan produk bergengsi lainnya. Sebagai orang yang mantan pasti ada rasa menyesal mengapa dulunya aku putuskan Dewi, ya, bagaimana? Dulunya dia tak pandai berdandan, sekarang malah memiliki pengikut di instagram berjuta-juta, karena dengan modal bentuk tubuh yang berubah drastis dari sebelumnya.

Setelah hubunganku dengan Dewi berakhir, kehidupanku berubah 180 derajat, mungkin rumput yang bergoyang pun tak  bisa menjawab, mengapa aku bisa semacam ini, saking herannya, ada sedikit pikiranku bahwa aku di guna-guna karena memutuskan hubungan terlebih dahulu dengan Dewi, apalagi karena perubahan di dirinya juga kian berubah drastis yang ku lihat dari layar smartphoneku. Aku menjadi semakin rendah, dia malah semakin di atas awan. Banyak teman-teman yang malah mencibir dan semakin ahli mencibir kepada diriku, loh bukannya di beri jalan keluar, malah sang mantan yang di sanjung

“Kalau aku jadi kamu, akan ku sombongi diriku di media sosial”

“Apaan sih”, aku menyeletuk

“Ya, biar hits juga gitohhh

Brengsek. Hits. Begitulah karya yang di idam-idamkan muda-mudi di kota ku ini, seolah semua yang mereka butuhkan adalah ketenaran, padahal apa yang mereka idamkan semua itu adalah kepalsuan saja, tak semenarik yang ada di dunia nyata, ya banyak sudah temanku yang menjadi budak ketenaran dengan cara apapun, yang penting tenar. Sehingga sekarang ini aku kekurangan teman, apalagi dengan isu hits sang mantan. Tak heran jika sekarang aku lebih nyaman menyendiri.

Namun, ada satu sahabat yang sangat peduli padaku, walaupun kami berdua sangat jarang bertemu, maklum kesibukan adalah segalanya baginya, tak masalah bagiku, orang yang jauh sangat peduli dengan kita lebih berharga dari ribuan teman yang hanya sekedar teman tertawa.

“Kau harus menemuinya”

“Hah?” ku balas dengan kata itu seolah aku bingung, bagaimana bisa aku menemui mantan ku itu

“Iya, kau harus menemuinya, lalu berbicaralah, kalau memang kamu belum bisa melupakannya”

“Kamu gila, bro. gimana bisa aku ngomong kayagitu”

“Itu salah satu jalan keluarnya, merelakan berasal dari kelegaan, percaya deh kalau kamu sudah bilang itu, kamu bakal lega”

“Tapi, apa tidak sebaiknya, aku bicara lewat chat atau telepon aja”

No no, jangan, bro, itu akan menimbulkan bias”

“Maksudnya?”

“Kalau lewat media seperti itu, kalian hanya bertemu dengan tulisan dan suara, bukan komunikasi yang efektif, tidak menimbulkan kelegaan yang berarti”

Percakapan kami berdua, memang selalu puitis, ibaratkan antara hujan dan awan, awan yang akan menimbulkan hujan, jika ada pertanyaan maka akan ada jawaban, lalu jawaban itu menjadi pertanyaan. Setelah berapa lama, akhirnya aku setuju bakal menemui dia agar terdapat jalan keluar, ya walaupun sebenarnya itu bakal membahayakan bagi perasaan yang sulit untuk dikubur, tapi aku tidak punya pilihan lain.

Hari itu aku bulatkan niatku untuk bertemu dengannya, gugup bercampur takut. Ini merupakan hal gila bagiku. Terakhir kali aku bertemu dengan dia, adalah kita aku mengucapkan putus secara langsung ke dia, dan sekarang sudah kurang lebih satu tahun aku bertemu Dewi, pertama kali aku akan melihat secara langsung bukan lewat media sosial, sejak saat itu.

“Hai, Ratih”

“Hai.....”

Aku tidak tahu apa yang aku rasakan ketika aku bertemu pertama kali sejak berapa lama. Tidak terduga. Kecewa. Tak seperti yang ku bayangkan ketika aku melihat dia di media sosial. Ya, ternyata seperti inilah tampang dia sebenarnya, tubuhnya memang indah, hanya saja dia semakin centil. 

Ketika ia mengatakan hai saja sudah kecentilannya saja sudah melebihi artis alay di televisi.
“Kamu Dewi, kan?”

Secara tak sadar aku mengucapkan hal yang bodoh seolah aku baru mengenalnya, namun maklum saja karena gayanya sekarang sudah berubah drastis.

“Iya, aku Dewi, masa kamu lupa, atau kamu pasti heran kan karena aku udah berubah jadi artis yang didambakan dimana-mana”

Mungkin kalian akan menduga, akan seperti apa dia berbicara kepadaku. Gaya bicara yang centil, penuh kesombongan, dia memamerkan apa yang sebenarnya aku sudah tahu dan banyak orang tahu.

Dialah mantanku, Dewi Suzana, artis instagram lokal, berubah drastis dari yang ku duga, memang parasnya menggoda siapapun yang melihat dengan smartphone yang mahal, bodi yang aduhai, tak seperti setahun yan lalu, ramah, cantik yang alami dan sedikit berwibawa.

Aku tak banyak mengingat apa yang kami bicarakan pada saat itu, karena aku ingin bergegas lari dari tempat itu. Yang aku ingat adalah ketika aku mengatakan ini

“Dewi, aku sudah melupakanmu, sekarang aku menjalani kehidupan yang mungkin membosankan, namun aku akan memulai lagi dengan yang baru”

Tidak penting apa tanggapan darinya, aku mengatakan hal itu seolah aku mengatakan kepada diriku sendiri, atas apa yang ku pikirkan selama ini.

Selasa, 13 Maret 2018

Burung yang jatuh cinta pada langit




Aku yang menatap penuh senyum selalu menatap pohon – pohon di belakang istana kecilku...

Adalah seekor burung kecil yang baru lahir dari telurnya yang putih nan tak berdosa, sendirian di dalam sarangnya, seraya menantikan induknya datang, namun di hari lahirnya ke dalam dunia itu induknya tidak pernah menampakkan sedikitpun dari keberadaannya, keadaan yang sangat disesali ketika seseorang datang, yang lainnya seketika itu juga pergi...
Sang Burung yang baru lahir, menjalani kehidupannya sendirian di sarangnya pada pohon yang sangat tinggi

Kemudian ia menengadah ke langit, terheran-heran ketika melihat birunya langit dihiasi awan yang bergerombol,

“Apakah ia ibu ku?”

Langit itu tiba-tiba mengeluarkan kehangatan kepada sang burung malang itu, seketika itu juga ia jatuh cinta...

“Ia ibuku!”

Dengan bahagia burung itu menikmati kehangatan seperti yang ibu lainnya lakukan pada saat bayi baru lahir...

Namun, bahagianya luntur ketika langit itu tiba-tiba berangsur menjadi gelap gulita, sang burung sedih, marah dan kecewa, ia menangis sendirian di sangkarnya

“Ibu, mengapa engkau meninggalkan ku?”

“Aku butuh kehangatan, aku sendiri disini, dingin, bu... dingin!”

Namun, setelah lama kelamaan, langit itu pun kembali terang, yang awalnya dingin kemudian berubah menjadi hangat semakin hangat

Burung kecil itu kembali bahagia

“Ibu, aku tahu kau kembali, aku mencintaimu, bu”

Ia kembali terheran ketika dari langit ada banyak titik air turun ke tanah yang juga mengenai sarangnya

“Ibu, apakah kau akan membunuhku?”

“Apakah ibu marah kepadaku?”

Sang burung kembali bersedih...

Namun ternyata ia tidak mati ketika terkena banyak air yang jatuh ke bumi, alih-alih merasakan kesakitan, ia malah merasakan pertama kali namanya segar dan sejuk
Pengalaman pertama kali hari itu ia tutup dengan berlapis warna-warni yang ada di langit

“Ibu, apakah itu hadiah untukku?”

“Terimakasih ya , ibuku, aku sangat mencintaimu”

Sang Burung Kecil tumbuh bersama langit yang ia cintai, ia menjadi burung kecil yang dewasa, ia juga mulai berhubungan dengan burung yang sejenis dengan yang lainnya

Satu hal yang ia herankan mengapa ia tidak pernah mendengarkan ibu yang ia cintai tersebut berbicara padanya, pernah sang langit bersuara namun hanyalah suara yang tak ia mengerti

Sang burung mulai bertanya-tanya, mengapa ia memiliki bentuk ibu yang berbeda dengan yang sejenis seperti dirinya

Sang langit tetap terdiam......

Kala itu sang burung berubah karena banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya membuat sebuah keraguan dalam dirinya

“Kalau memang kau adalah ibuku, setidaknya berbicaralah kepadaku, tunjukkan cintamu kepadaku, ibu”

“Mengapa kau membiarkan aku larut dalam pertanyaan yang menyiksaku seperti ini”

Namun, langit tak pernah sekalipun berbicara kepadanya apalagi menjawab pertanyaan sang burung itu

“Ternyata benar seperti kata sahabatku, bahwa kau bukan ibuku, ibuku yang sebenarnya sudah lama pergi”

“Dasar bodoh, ternyata kau penipu, aku membencimu”

Sang burung kemudian pergi menjauh , ia tidak pernah lagi memanggil langit dengan panggilan ibu, bahkan ia melupakan apapun yang terjadi dengan burung kecil dan langit tersebut.

Ya, burung itu kembali jatuh cinta kepada burung seperti dirinya, yang bisa ia ajak bicara, yang bisa ia ajak bertukar pikiran, ia sama sekali melupakan sang langit yang menemaninya hidup tersebut

Walau sang langit selalu menatap sang burung dengan burung lainnya dalam diam.

Namun, tak disangka burung lain yang ia cintai tersebut kembali menghilang, ya  pergi meninggalkan sang burung.

Sang burung bertanya sambil menangis dan menangis sepanjang hari

Dalam kelam harinya ia menyesal mengapa ia harus jatuh cinta pada orang yang akhirnya meninggalkannya

Burung itu merasakan patah hati, ia pun sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya

Tak ada satupun yang menemaninya, bahkan sahabat-sahabatnya pun tak ada yang perduli

“Mungkin keberadaanku di dunia ini adalah kesalahan ibu yang melahirkanku, sampai – sampai ibu meninggalkanku ketika aku lahir”

Dan seketika rintik hujan membasahi sang burung tersebut...

Serentak sang burung kembali menengadah ke langit, ia tersenyum dan semakin tersenyum, ia tertawa ketika sang air membasahi dirinya yang terluka

Sang burung terharu, ia merasa bersalah, ia juga pernah meninggalkan sang langit yang selalu menemani tanpa sedikitpun lelah...

“Ibu.....”

“Maafkan aku, aku menyesal telah membencimu”

Walaupun langit itu selalu diam, namun sang burung tahu bahwa sang langit berbicara melewati diamnya yang tak berujung

Sang burung menikmati derasnya air yang turun seketika itu ia sadar bahwa ia sudah memiliki sesuatu yang berarti....

Yaitu Kehidupan dan Cinta...

Bersama derasnya air langit, tiba-tiba suara dari kejauhan mengejutkan sang burung

“Anakku......!!!!!”

...................................................................

Adams Sophiano